PSSI Tegaskan Kabar John Herdman “Resmi” Masih Prematur: Negosiasi Pelatih Timnas Indonesia Belum Final

Rumor yang menyebut John Herdman sudah resmi menjadi pelatih kepala Timnas Indonesia kembali menguat setelah beredar kabar adanya pembahasan di level Komite Eksekutif (Exco) PSSI pada 18 Desember 2025. Di ruang publik, isu itu cepat berkembang menjadi “penetapan”. Namun, pernyataan terbaru federasi menunjukkan prosesnya belum selesai, sehingga klaim “resmi” masih terlalu dini. Wakil Ketua Umum PSSI Zainudin Amali menegaskan bahwa penunjukan Herdman belum mencapai tahap finalisasi. “Belum final (soal penunjukan John Herdman), masih ada proses yang harus dinegosiasikan dan disetujui kedua belah pihak,” ujarnya dalam keterangan pada 19 Desember 2025. Amali juga menyebut pengumuman formal akan dilakukan oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir setelah seluruh tahapan rampung. Dengan kata lain, yang terjadi saat ini lebih tepat disebut tahap pembahasan dan negosiasi, bukan pengangkatan definitif. Klarifikasi PSSI ini penting karena dalam praktik tata kelola organisasi, keputusan strategis seperti penunjukan pelatih kepala biasanya memerlukan beberapa lapis proses: penyaringan kandidat, pembahasan internal (termasuk Exco), negosiasi kontrak dan struktur staf, serta persetujuan akhir sebelum diumumkan ke publik. Selama kontrak belum ditandatangani dan mekanisme persetujuan belum tuntas, federasi cenderung menghindari pengumuman agar tidak memicu ekspektasi yang berujung koreksi. Kursi pelatih Timnas Indonesia memang kosong sejak berakhirnya kerja sama dengan Patrick Kluivert pada 16 Oktober 2025. Reuters melaporkan PSSI dan Kluivert berpisah lewat kesepakatan bersama setelah hasil yang menutup peluang kualifikasi Piala Dunia 2026, termasuk kekalahan dari Irak di Jeddah. Dalam laporan yang sama, Reuters mencatat skuad yang ditangani Kluivert banyak dibangun di atas pemain diaspora Belanda. Di tengah masa transisi itu, PSSI beberapa kali memberi sinyal bahwa mekanisme Exco tetap harus dijalankan. Dalam pemberitaan Suara.com, Amali menyatakan Exco belum menerima laporan resmi terkait perkembangan kandidat pelatih, dan keputusan menunggu rapat Exco. Ia bahkan menegaskan, “kami di Exco belum mendapatkan informasi,” ketika dimintai respons mengenai rumor kandidat tertentu. Jawa Pos juga menuliskan bahwa PSSI masih “mendengarkan beberapa nama” dan proses pencarian pelatih masih berjalan sesuai mekanisme organisasi. Lalu mengapa nama John Herdman menjadi pusat perhatian? Dari sisi rekam jejak, Herdman memiliki profil yang relatif unik di level internasional. Sejumlah laporan menyorot prestasinya meloloskan tim nasional putri Selandia Baru ke Piala Dunia Wanita 2007 dan 2011, serta mengantarkan Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 setelah penantian panjang. Tirto mencatat Herdman terakhir melatih Toronto FC pada periode 2023–2024 dan kariernya sarat pengalaman menukangi tim nasional Kanada, baik di level putra maupun putri. Kombinasi pengalaman “membangun program” dan bekerja di ekosistem sepak bola modern inilah yang membuat namanya dianggap relevan dengan kebutuhan Timnas Indonesia saat ini. Meski demikian, PSSI belum menutup kemungkinan kandidat lain. Okezone menyebut Herdman masuk daftar prioritas yang juga memuat nama seperti Giovanni van Bronckhorst. Bagi federasi, tahap akhir biasanya bukan hanya soal reputasi, tetapi juga kecocokan filosofi permainan, rencana periodisasi latihan, pengelolaan ruang ganti, serta struktur staf yang memungkinkan transfer pengetahuan ke ekosistem kepelatihan nasional. Dari perspektif jadwal, ketidakpastian pelatih kepala bisa berdampak pada pemanfaatan FIFA Matchday. Jawa Pos melaporkan PSSI sempat menyebut periode pertandingan internasional terlewat karena belum ada pelatih, sehingga agenda uji coba diisi oleh tim lain. Situasi ini membuat pengumuman resmi menjadi kunci, bukan sekadar untuk menutup rumor, tetapi juga untuk memulihkan kepastian program tim nasional. Sampai Erick Thohir mengumumkan secara formal, posisi paling aman adalah menyebut John Herdman sebagai kandidat kuat yang sedang dinegosiasikan—bukan sosok yang sudah “resmi” menandatangani kontrak. Kepastian publik akan datang ketika PSSI menyatakan final dan memperkenalkan pelatih baru beserta kerangka kerja, target kompetisi, dan detail tim kepelatihan.

Details

Klaim Sudah Ngobrol dengan UFC, Calon Lawan Kuak Jadwal Hadapi Khamzat Chimaev

Spekulasi soal siapa penantang pertama Khamzat Chimaev sebagai juara kelas menengah UFC kembali memanas menjelang pergantian tahun. UFC sendiri belum mengumumkan lawan maupun tanggal resmi untuk pertahanan gelar perdana “Borz”. Namun, sinyal dari kubu penantang mulai mengerucut ke satu nama yang dianggap paling “siap antre”: Nassourdine Imavov. Imavov bukan sekadar melontarkan tantangan. Dalam pernyataan yang dikutip media, ia mengakui duel melawan Chimaev membawa kompleksitas non-teknis. Keduanya sama-sama punya akar dari kawasan Kaukasus dan saling mengenal, sehingga pertarungan ini—di mata sebagian komunitas—dipandang tidak ideal. Imavov bahkan menyebut ibunya tidak menyukai gagasan duel tersebut karena dianggap “tidak seharusnya terjadi di antara dua saudara”. Meski begitu, Imavov menekankan logika di puncak divisi sering “memaksa”: ketika sabuk jadi tujuan, penantang harus siap menghadapi siapa pun. Bagian paling menarik muncul ketika Imavov mengklaim prosesnya sudah bergerak ke tahap komunikasi dengan promotor. Ia mengatakan pihaknya “sudah ngobrol dengan UFC” dan mendapat informasi bahwa UFC ingin menggelar pertarungan pada Februari. Jika benar, target itu menandakan UFC ingin membawa Chimaev bertarung relatif cepat setelah merebut gelar. Namun, rencana tersebut langsung bertabrakan dengan dua faktor besar: kondisi fisik sang juara dan kalender Ramadan. Chimaev sendiri sudah memberi pembaruan yang cukup jelas tentang timeline comeback-nya. Dalam wawancara yang dikutip MMA Fighting, ia menyampaikan akan menjalani operasi kecil pada kakinya, menepi dari latihan beberapa pekan untuk pemulihan, lalu kembali membangun kamp “setelah Ramadan”. MMA Fighting juga mencatat Ramadan 2026 diperkirakan berlangsung dari 17 Februari hingga 19 Maret, dan banyak petarung Muslim cenderung menghindari jadwal tanding pada periode tersebut. Di titik ini, “kode Februari” dari Imavov menjadi sulit diwujudkan. Dengan operasi kaki dan rencana menunda persiapan sampai Ramadan selesai, MMA Fighting menilai pertahanan gelar pertama Chimaev lebih realistis terjadi pada April 2026 atau bahkan lebih lambat, tergantung ketersediaan slot event UFC. Artinya, Februari bisa saja sempat menjadi target awal dalam pembicaraan, tetapi belum tentu menjadi tanggal final yang bisa dikunci. Menariknya, keraguan soal duel ini bukan cuma soal jadwal. Chimaev juga pernah menyampaikan alasan personal mengapa ia tidak antusias menghadapi Imavov. Dalam kutipan yang dimuat media, Chimaev mengatakan ia mengenal Imavov dan secara pribadi tidak ingin bertarung karena faktor kedekatan serta sensitivitas Dagestan–Chechnya, tetapi tetap membuka diri bila UFC menghendaki pertarungan tersebut. Dengan kata lain: secara kompetitif masuk akal, namun secara relasi dan konteks komunitas terasa “serba salah”. Dari sudut pandang divisi, Imavov tetap terlihat sebagai opsi paling “logis” untuk title shot berikutnya. MMA Fighting menyebut belum ada pengumuman resmi, tetapi Imavov dipandang sebagai kandidat paling mungkin untuk menantang sang juara dalam pertahanan gelar pertama. Dan sejak September, Imavov juga sudah membahas bagaimana UFC membentuk “situasi perebutan posisi” di puncak kelas menengah, di mana hasil laga-laga utama menentukan siapa yang paling layak maju. Sementara itu, ada juga pihak lain yang mencoba mengganggu narasi. Joaquin Buckley, misalnya, melontarkan tantangan bernuansa gimmick—bahkan menawarkan insentif uang jika Chimaev bersedia tidak memakai gulat pada ronde pertama dan menjaga duel tetap striking. Walau kecil kemungkinan UFC mengatur title fight berdasarkan provokasi semacam itu, manuver ini menegaskan satu hal: sabuk membuat Chimaev menjadi magnet call-out. Kesimpulannya, Imavov memberi sinyal kuat bahwa pembicaraan dengan UFC sudah terjadi dan Februari sempat menjadi target awal. Namun, pernyataan Chimaev tentang operasi kaki dan rencana kembali berlatih setelah Ramadan membuat April 2026 (atau lebih lambat) tampak jauh lebih realistis sebagai jendela pertarungan.

Details

Hasil Pertandingan Liga Italia AS Roma vs Como : 1-0, Wesley Jadi Pembeda dan Roma Tetap Menempel Papan

AS Roma mengamankan kemenangan penting 1-0 atas Como pada Selasa (16/12/2025) dini hari WIB. Reuters menilai hasil ini menjaga Roma tetap berada dalam perburuan gelar, sekaligus jadi respons setelah dua kekalahan beruntun yang sempat mengguncang momentum mereka. Gol tunggal laga ini dicatat Sky Sports datang pada menit ke-60 lewat Wesley França Lima. Dalam pertandingan yang cenderung ketat, satu momen bersih itu cukup untuk mengunci tiga poin di Olimpico. Gol Menit 60: Kombinasi Soulé–Wesley Membuka Kunci Pertahanan Como Reuters menuliskan gol berawal dari umpan Matías Soulé, sebelum Wesley menyelesaikan dengan tembakan akurat ke pojok bawah gawang. Sky Sports menegaskan waktu terjadinya gol pada menit 60 fase krusial ketika pertandingan sering mulai “retak” akibat intensitas dan perubahan energi. Bagi Roma, ini bukan hanya soal gol, tapi juga efisiensi. Dalam laga seperti ini, tim yang sanggup menciptakan satu peluang berkualitas dan mengeksekusinya biasanya keluar sebagai pemenang dan Roma melakukannya dengan rapi. Reuters menyoroti pendekatan Roma yang bermain “high up the pitch” atau menekan tinggi, membuat Como kesulitan membangun serangan dari bawah. Ini terasa penting karena Como datang dengan beban berat setelah kalah 0-4 dari Inter pada pertandingan sebelumnya (catatan Reuters), sehingga mereka butuh laga yang stabil untuk memulihkan kepercayaan diri. Di lapangan, Como tetap punya momen-momen untuk mengancam, tetapi Roma lebih tenang mengelola fase bertahan. Dalam laga skor tipis, detail seperti transisi dan disiplin posisi sering lebih menentukan dibanding jumlah peluang semata. Rekor “Tanpa Seri” Roma: Menang atau Kalah, Tidak Ada Abu-abu Salah satu data paling menarik datang dari Reuters: Roma belum mencatat hasil imbang dalam 21 pertandingan di semua kompetisi rekor yang menggambarkan karakter mereka musim ini, selalu bermain untuk hasil maksimal meski risikonya besar. Rekor itu juga selaras dengan dinamika pertandingan melawan Como. Roma tidak tampil sekadar “mengamankan satu angka”; mereka terus mencari cara untuk memecah kebuntuan sampai akhirnya gol Wesley hadir. Ketika sudah unggul, Roma juga menutup laga dengan kontrol, bukan kepanikan. Soal klasemen, Reuters menulis Roma mengoleksi 30 poin, terpaut tiga angka dari pemuncak (Inter). Como berada di 24 poin. Angka-angka ini menegaskan betapa bernilainya kemenangan tipis seperti ini: satu gol bisa berarti satu lompatan penting dalam persaingan papan atas.

Details
1 2 3

Sepak Bola

Lihat selengkapnya

Piala Dunia

Lihat selengkapnya

E-sports

Lihat selengkapnya

UFC

Lihat selengkapnya